by admin | Jul 28, 2016 | Berita
Dalam rangka memperingati Dies Natalis Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar yang ke-13 (28 Juli 2016), kampus seni ISI Denpasar pada hari Senin, 25 Juli 2016 menggelar lomba debat bahasa Inggris yang diikuti oleh mahasiswa dari semua prodi yang ada di masing-masing fakultas, yaitu fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) dan fakultas Seni Pertunjukan (FSP). Lomba yang diadakan di gedung Citta Kelangen ini dihadiri oleh Wakil Rektor 3, Dekan FSRD beserta Wakil Dekan, Dekan FSP beserta Wakil Dekan, dan semua kaprodi dari kedua fakultas.
WR 3 ISI Denpasar, Drs. I Wayan Gulendra, S.Sn., dalam sambutannya yang sekaligus membuka acara lomba debat dengan resmi, mengatakan bahwa kemampuan mahasiswa ISI Denpasar dalam berbahasa Inggris harus terus ditingkatkan karena bahasa Inggris sangat penting dalam persaingan global. Selain itu, sumber-sumber pustaka untuk penulisan ilmiah yang berbahasa Inggris juga akan dengan mudah dipahami dengan kemampuan berbahasa Inggris. Menurut Gulendra, lomba debat bahasa Inggris adalah ajang untuk melatih mahasiswa agar berani berlomba, bermental kompetisi dan pada akhirnya akan menjadi mahasiswa yang bermental juara.
Pada lomba kali ini, keluar sebagai juara I, II, dan III masing-masing Christ Cristina (prodi Musik), Putu Ayu Adiyanti (prodi Desain Mode), Putri Ridjanti Lubis (prodi Musik), juara harapan I,II,dan III, masing-masing Ni Made Satriyani Anindita (Prodi Desain Interior), A.A. Bagus Harjunanthara (prodi Tari), dan Ni Putu Suci Pramesti (prodi Tari). Masing-masing pemenang I,II,III mendapatkan tropi, piagam dan hadiah uang tunai, dan juara harapan memperoleh piagam dan tropi.
Ketua panitia lomba, Ni Ketut Dewi Yulianti, S.S.,M.Hum. mengatakan bahwa pemenang lomba tahun ini akan mewakili ISI Denpasar pada lomba debat bahasa Inggris tingkat nasional NUDC (National University Debating Championship) tahun 2017. Untuk persiapan tersebut, ISI Denpasar melalui UPT Lab.Bahasa menyediakan kursus gratis bagi mahasiswa. Pihaknya berharap semua mahasiswa dapat memanfaatkan kesempatan dan fasilitas yang ada untuk peningkatan kemampuan berbahasa Inggris mereka.
by admin | Jul 27, 2016 | Berita
Jumat 22 Juli 2016 diselenggarakan Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Program Pascasarjana (S2) Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Angkatan 2015 bertempat di Lantai 2 Gedung Citta Kelangen ISI Denpasar. Seminar nasional kali ini berjudul “Menggali Tradisi dalam Digiculture” dan dihadiri oleh tamu undangan, seniman, dosen, dan juga mahasiswa S2 ISI Denpasar. Acara seminar diawali oleh laporan dari Ketua Panitia kemudian disusul dengan sambutan direktur Pascasarjana ISI Denpasar (Dr. I Ketut Sariada, SST., M.Si). Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Rektor ISI Denpasar (Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.SKar., M.Hum) sekaligus membuka secara resmi acara Seminar Nasional tersebut. Pelaksanaan seminar nasional ini dilatarbelakangi oleh perkembangan teknologi digital yang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir dan telah memberikan pengaruh secara signifikan atas proses berkesenian, penyajian, dan cara menikmati hasil kesenian yang dilakukan oleh seniman dan masyarakat.
Kehadiran teknologi digital di tengah aktivitas kreatif manusia pun pada titik kulminasi eksperimentasi teknologi pada kenyataannya berkorelasi dengan ketercapaian tingkat peradaban manusia, di mana perangkat “teknologi digital” telah menggeser pemahaman “logika matematis” konvensional. Pada tingkatan ini capaian teknologi digital pada gilirannya mampu menghadirkan satu realitas baru berupa munculnya istilah digi-culture atau ‘budaya digital’.
Adapun fokus Seminar Nasional ini mengarah pada persoalan atas fenomena digi-culture. Di antaranya :
- Apakah sesungguhnya budaya digital dan Bagaimana wujud perilaku digital?
- Bagaimanakah cara pelaku seni dalam mengoptimalkan idenya di era teknologi digital, termasuk juga bagaimana menggali nilai tradisi dan mengkonservasinya dalam konteks budaya digital?
- Secara praktis, seperti apakah proses terjadinya kolaborasi antara budaya digital dengan seni tradisi, pengetahuan dan kearifan lokal, serta bagaimana respon masyarakat terhadap tantangan budaya digital?
Untuk menjawab ketiga permasalahan tersebut, seminar nasional ini menghadirkan dua orang penyaji dan dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama dibawakan oleh Prof. M. Dwi Marianto, M.FA., Ph.D. (Guru Besar Seni Rupa dari ISI Yogyakarta). Dalam presentasinya yang berjudul “Menjadi Subjek, bukan Objek, dalam Digiculture”, ia membahas tentang pengaruh teknologi terhadap kebudayaan dimana gairah untuk memakai dan memiliki gadget begitu besar, mengakibatkan perubahan dalam keseharian, memengaruhi selera dan pola tingkah-laku, memberi kemudahan, sekaligus ekses budayanya. Teknologi-teknologi media digital telah secara nyata mengubah cara-cara manusia berinteraksi dan mengaktualisasi diri, budaya seperti itulah yang kemudian disebut dengan “digital culture”. Dalam presentasinya ia juga memberitahu kiat-kiat dalam menyikapi realita ini, dan mengambil pelajaran dan hikmah dari hal tersebut.
Sesi berikutnya kemudian dilanjutkan oleh pembicara kedua, yaitu Prof. Dr. Sri Hastanto. S.Kar. (Guru Besar Etnomusikologi dari ISI Surakarta). Dalam presentasinya yang berjudul “Mengorbitkan Local Wisdom dalam Musik Nusantara dengan Memanfaatkan Teknologi Digital” ia membahas tentang pengaruh teknologi digital terhadap musik nusantara. Bagaimana menyikapi secara bijak dalam menghadapi globalisasi termasuk teknologi digital serta memanfaatkan kearifan lokal sebagai perisai yang paling ampuh dalam menangkal globalisasi dan juga merupakan senjata yang paling efektif dalam mempertahankan bahkan mengibarkan jati diri kita di mata dunia.
Seminar Nasional ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu modal untuk menyambut era MEA terutama di bidang inovasi artistik berbasis pada pemanfaatan teknologi digital guna meningkatkan potensi Ekonomi Kreatif khususnya di bidang seni.
by admin | Jul 26, 2016 | Berita
Sumber : Humas ISI Denpasar
Sabtu 23 Juli 2016 digelar kegiatan Pembukaan Evaluasi Lapangan Usulan Penyelenggaraan Program Studi Seni (S3) yang diselenggarakan oleh Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar bertempat di Gedung Citta Kelangen ISI Denpasar. Pembukaan dihadiri oleh Rektor ISI Denpasar beserta jajarannya, Calon Ketua Program Studi S3 ISI Denpasar (Prof. I Wayan Dibia), beserta dosen-dosen ISI Denpasar. Acara tersebut menghadirkan Prof. Syamsul Rizal dan Prof. Salengke dari Kemenristekdikti serta Rektor ISBI Papua.
Acara diawali dengan sambutan dari Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.SKar., M.Hum yang dalam sambutannya menyampaikan bahwa ISI Denpasar sebagai satu-satunya perguruan tinggi yang ada di Bali yang juga memiliki keuntungan berupa tempat yang strategis dari segi kewilayahannya yakni di tengah-tengah kepulauan Republik Indonesia sehingga dapat dengan mudah dijangkau baik dari Bali maupun dari luar bali. Sebelumnya mulai dari tahun 2011 ISI Denpasar telah membuka Program Studi Seni S2 dan berlangsung hingga sekarang. Untuk menekuni peningkatan status dalam bidang seni, ISI Denpasar berkeinginan untuk membuka Program Studi S3.
ISI Denpasar telah mempunyai sejumlah 6 orang guru besar yang salah satunya diperbantukan di ISBI Papua dan lima lainnya masih aktif di ISI Denpasar sehingga telah memenuhi syarat untuk membuka Prodi S3. ISI Denpasar memiliki sejumlah 33 orang doktor dari berbagai bidang ilmu baik itu lulusan dari dalam negeri maupun luar negeri dan berharap kedepannya untuk dapat diajak bekerja sama untuk mengembangkan Prodi S3 di ISI Denpasar.
ISI Denpasar sekarang memiliki dua Fakultas yaitu Fakultas Seni Pertunjukkan yang memiliki 5 program studi dan Fakultas Seni Rupa dan Desain yang memiliki 7 program studi dengan total sejumlah 220 orang dosen terdiri dari 6 orang guru besar, 33 orang bergelar doktor, 184 orang lulusan S2 dan 3 orang dengan gelar S1. Kedepannya apabila program ini disetujui, ISI Denpasar berencana mengajak seluruh dosen S2 untuk menempuh pendidikan S3, oleh karena itu ISI Denpasar mengajukan usulan program itu kepada kemenristekdikti, tambahnya.
Sementara daram sambutannya, Prof. I Wayan Dibia selaku Calon Ketua Program Studi S3 menyampaikan bahwa urgensi bagi program ini begitu besar karena Bali sebagai sebuah daerah yang memiliki kesenian budaya begitu dinamis belakangan ini mendapatkan tantangan yang cukup berat dalam konteks pariwisata sehingga terjadi persaingan uyang begitu besar dengan budaya luar sehingga diperlukan sebuah sistem untunk menanggulangi hal tersebut.
Hal tersebut yang menjadikan Program studi Seni S3 ini begitu mendesak, untuk menghadirkan intelektual-intelektual muda untuk bisa menjadi bagian dari pertahanan sistem budaya bukan hanya untuk pihak ISI Denpasar tapi juga demi kebaikan seluruh Indonesia. Potensi Program S3 seni di bali cukup besar mengingat Bali sebagai daerah pusat atraksi budaya di dunia banyak kedatangan tokoh tokoh dunia untuk melakukan event-event besar sehingga ini bisa menjadi suatu peluang untuk memperkaya budaya kita. Ia juga berharap agar program ini dapat menjadi satu program studi S3 yang mampu berhadapan langsung dengan dunia internasional dan dapat dijadikan sebagai identitas kami (ISI Denpasar)
Acara dilanjutkan dengan sambutan pimpinan dari Kemenristekdikti yang dibawakan oleh Prof. Syamsul Rizal. Dalam sambutannya ia menyampaikan bahwa Kemnristekdikti telah mengunjungi beberapa Prodi dan salah satunya ISI Denpasar karena ISI Denpasar telah memenuhi salah satu syarat untuk membuka program studi S3, yaitu memiliki 6 orang dosen yang terdiri dari dosen yang bergelar Profesor maupun doktor yang telah memiliki publikasi internasional.
Prof. Syamsul Rizal merasa bangga terhadap ISI Denpasar karena bisa memenuhi syarat tersebut mengingat untuk bidang-bidang tertentu dan bidang seni salah satunya sangat sulit untuk melakukan publikasi internasional dan apabila Prodi S3 ini dapat terwujud, agar dapat lebih banyak mengarahkan anggotanya untuk melakukan publikasi internasional karena publikasi di Indonesia jauh tertinggal dari negara-negara tetangga. Ia berharap ISI Denpasar dapat menjadi motor penggerak untuk menunjukkan kepada universitas lain bahwa kita mampu dan agar mereka juga terpacu untuk melakukan hal yang serupa.
Kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua Tim Majelis Doktor yang dibawakan oleh Prof. Salengke yang dalam sambutannya menyampaikan bahwa pihaknya akan dengan segera berusaha mewujudkan program ini dan berpesan agar nanti lulusannya dapat memenuhi kriteria-kriteria yang telah ditetapkan dan berharap program S3 di ISI Denpasar ini dapat didesain dengan baik dan sehingga nanti usaha pemeliharaannya menjadi lebih mudah
Setelah pembukaan dan pembacaan sambutan acara dilanjutkan dengan presentasi Program Studi Seni yang dibawakan oleh Wakil Rektor I ISI Denpasar (Prof. Dr Drs. I Nyoman Artayasa, M.Kes). Dalam presentasinya ia menyampaikan bahwa seni adalah salah satu unsur penting dari pusaka budaya bangsa Indonesia. Kesenian dengan beraneka ragam wujud dan ekspresi budaya-nya, yang tersebar di seluruh pelosok tanah air, adalah kekayaan bangsa Indonesia yang adiluhung dan tidak dimiliki oleh bangsa-bangsamanapun di dunia. Selain menjaga kelestariannya, kesenian yang didukung dan diayomi oleh berbagai kelompok etnis ini patut terus dikembangkan agar menjadi satu kekuatan bangsa untuk memperkokoh identitas dan jati diri anak bangsa dalam menghadapi persaingan dunia yang semakin ketat dan sengit di masa-masa yang akan datang.
Di era globalisasi dan zaman teknologi modern ini, seni budaya Bali telah masuk dan menjadi bagian dari silang interaksi budaya dunia sehingga Bali menjadi semakin rentan untuk dimasuki oleh unsur-unsur seni luar dan asing, serta semakin cepatnya proses sekularisasi kesenian Bali. Jika tidak disikapi dengan baik dan benar, hal ini dapat membahayakan eksistensi kesenian Bali di masa mendatang. Agar seni budaya Bali bisa tetap eksis, tanpa harus kehilangan jati dirinya, dibutuhkan sistem pertahanan dan pengembangan seni budaya yang didukung oleh sumberdaya yang memiliki kepekaan artistik dan kultural, kemampuan kreativitas dan kecerdasan serta inteligensia yang tinggi.
Sebagai satu-satunya perguruan tinggi seni yang ada di Pulau Dewata, ISI Denpasar menjadi benteng pertahanan terhadap keberlanjutan seni dan budaya Bali sebagai bagian dari pusaka budaya bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, ISI Denpasar dituntut untuk memiliki sumber daya manusia, tenaga-tenaga ahli yang berkompeten di bidang seni, baik sebagai pencipta dan pengkaji maupun sebagai penyaji dan pembina. Dalam kaitan ini Program Studi Seni (S3) merupakan satu kebutuhan yang amat mendesak.
Program Studi Seni (S3) ISI Denpasar adalah satu program yang sangat bermanfaat bukan saja bagi institusi itu sendiri, melainkan juga bagi masyarakat luas dan negara bangsa. Pulau Bali yang sejak tahun 1930-an telah tumbuh dan berkembang menjadi salah satu pusat interaksi budaya-budaya dunia, maka Program Studi Seni (S3) ini diyakini akan berkontribusi positif terhadap promosi budaya bangsa ke masyarakat dunia.
Visi Program Studi Seni (S3) ISI Denpasar adalah:
Program studi yang menyelenggarakan pendidikan seni Strata 3 (doktor) yang unggul, berbasis budaya Nusantara, berwawasan kebangsaan dan berorientasi universal.
Sejalan dengan visi ini, Program Studi Seni (S3) ISI Denpasar mengemban misi sebagai berikut:
- Melaksanakan pendidikan seni berbasis budaya lokal dan nasional kebangsaan, serta berorientasi budaya universal;
- Melaksanakan pendidikan seni untuk meningkatkan dan memperkaya nilai-nilai kemanusiaansesuai perkembangan zaman;
- Melaksanakan pendidikan seni untuk menghasilkan sumberdaya bangsa yang memiliki pengetahuan dan wawasan seni budaya yang luas, menghasilkan karya cipta-cipta monumental, dan atau kajian seni yang berkualitas dunia.
Untuk memenuhi tuntutan internal maupun eksternal akan kebutuhan sumberdaya seni budaya, dan menyikapi perkembangan seni, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta guna menjawab peningkatan apresiasi seni masyarakat, Program Studi Seni (S3) ISI Denpasar memiliki tujuan sebagai berikut:
- Melaksanakan program pendidikan tinggi seni tingkat doktor yang berbasis budaya nusantara dan berorientasi budaya universal;
- Melahirkan sumberdaya (doktor seni) yang memiliki kepekaan artistik dan kultural, serta kemampuan kreativitas dan kecerdasan serta inteligensia yang tinggi;
- Menghasilkan gagasan-gagasan kreatif dan kajian-kajian teoritik seni, melalui pendekatan interdesiplin maupun multidesiplin, untuk kemajuan keilmuan bidang seni serta peningkatan kesejahteraan manusia
by admin | Jul 22, 2016 | Berita
Penulis : Yogi Antari
Bulan ini mahasiswa Program Studi Film dan Televisi ISI Denpasar kembali meraih prestasi dengan memenangkan sebuah kompetisi film pendek “Let’s Eat Movie Competition.” Kompetisi yang diselenggarakan oleh Let’s Eat Magazine ini berlangsung dari tanggal 6 Mei dan diperpanjang hingga 30 Juni 2016. Mengalahkan 35 karya film pendek dari seluruh Indonesia, film garapan mahasiswa FTV yang bertajuk “Sebelum 5 Menit – Sate Lilit” menjadi juara satu dalam kompetisi yang ramai dipromosikan lewat media sosial ini.
“Sebelum 5 Menit – Sate Lilit” bercerita tentang seorang pemuda kelaparan yang hanya memiliki uang Rp.2000. Dia mendapat simpati dari warung sate yang didatanginya, kemudian membantu si pemilik warung membuat sate dan mendapat upah sebungkus sate.
IB Giri Semara Putra (sutradara) mengaku syarat utama kompetisi, yakni film harus bercerita tentang makanan dan proses pembuatannya, memang sangat diperhatikan oleh tim produksi “Lempeni Films”. Tim produksi juga mengerjakan film ini dengan semangat positif dan keinginan untuk menghasilkan karya yang maksimal. Nilai lokalitas diangkat melalui pemilihan jenis makanan yang ditampilkan dalam film, yakni sate lilit Bali.
“Menjadi juara satu merupakan kejutan besar bagi tim “Lempeni Films”, film ini kami kerjakan sampai tidak tidur beberapa hari. Kami senang sekali,” cetus Giri.
Kemenangan dalam Let’S Eat Movie Competition ini menambah daftar panjang prestasi program studi Film dan Televisi. Kendati baru berdiri selama tiga tahun, FTV tampaknya bisa menjadi salah satu program studi unggulan di ISI Denpasar.
by admin | Jul 19, 2016 | Berita
Salah satu tantangan pendidikan tinggi Indonesia saat ini adalah bagaimana merubah pola pikir lulusan dari job seeker (pencari kerja) menjadi job creator (pencipta lahan kerja) ditengah ketersediaan lapangan pekerjaan yang terbatas. Sebagian besar lulusan perguruan tinggi lebih memilih berkerja sebagai karyawan atau pekerja yang dibayar oleh suatu instansi/perusahaa
n dibandingkan dengan memulai usaha sendiri bekerja mandiri dan mempekerjakan orang lain atau biasa disebut dengan berwirausaha. Ironisnya, mayoritas pengusaha sukses yang mau bekerja secara mandiri dan mempekerjakan banyak orang justru dikontribusikan oleh lulusan SD dan SMP. Kewirausahaan adalah hal yang dapat dipelajari dan perguruan tinggi merupakan salah satu tempat yang paling tepat untuk melakukan pendidikan kewirausahaan ini.
Atas latar belakang tersebut Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar melaksanakan Diklat Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) tahun 2016 dan kegiatan ini merupakan salah satu program Kemenristekdikti dengan prioritas nasional yang wajib dijalankan oleh seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Diklat PMW tahun 2016 ini secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor III ISI Denpasar (Drs. I Wayan Gulendra, M.Sn) Senin (18/7) pagi pada pukul 08.00 WITA bertempat di Lt. 3 Gedung Citta Kelangen. Acara diawali dengan laporan Diklat yang dibawakan oleh Sekretaris Panitia Pengelola PMW (Drs. I Gusti Bagus Priatmaka, MM). Sementara itu Rektor ISI Denpasar dalam sambutannya yang diwakilkan oleh Wakil Rektor III menghimbau agar mahasiswa ISI Denpasar mampu memanfaatkan skill individu masing-masing, mengasah jiwa wirausaha, serta mampu mengemas atau mengelola produk menjadi sebuah usaha sehingga dapat menciptakan lapangan kerja dan mampu bersaing dalam dunia bisnis. Diharapkan kedepannya seluruh lulusan ISI Denpasar dapat mengembangkan potensi diri dan mampu bekerja secara mandiri, ujarnya sekaligus membuka secara resmi Diklat PMW tahun 2016.
Pelaksanaan Diklat PMW tahun 2016 cukup diminati oleh para mahasiswa ISI Denpasar. Tercatat sejumlah 150 mahasiswa ISI Denpasar yang berasal dari berbagai program studi mengikuti pelaksanan Diklat PMW tahun 2016 ini. Dalam pelaksanaannya, para peserta diklat diberikan materi Diklat dari penceramah/instruktur yang merupakan dosen Fakultas Ekonomi UNUD yang memiliki kompetensi perusahaan. Adapun para penceramah/instruktur yang hadir memberikan materi kepada peserta diklat adalah sebagai berikut:
Instruktur |
Materi |
Dr. I P. G. Sukaatmadja, SE., MP |
Kewirausahaan |
Drs. I Komang Erdana, MM |
Pengantar Manajemen |
Dr. I G A. Kt. Giantari, SE., M.Si |
Manajemen Pemasaran |
Dra. Ni Ketut Purnawati, MS |
Manajemen Operasi |
I Gst. Ayu Dewi Adnyani, SE., M.Si |
Manajemen SDM |
Dr. Henry Rahyuda, SE., MM., Ak |
Laporan Keuangan Usaha |
Drs. I Wayan Mudiarta Utama, MM |
Etika Bisnis |
Prof. Dr. Ni Nyoman Kerti Yasa, SE., MS |
Pengantar Bisnis |
Adapun tujuan dilaksanakannya Diklat PMW tahun 2016 ini diantaranya adalah agar mahasiswa memiliki wawasan tentang kewirausahaan, mampu menjabarkan rencana bisnis yang mempunyai sasaran yang realistik, mampu menganalisis kekuatan dan kelemahan usaha yang akan dikelola dan mampu mengantisipasi berbagai hambatan maupun peluang yang ada dalam usaha merealisasikan rencana bisnis yang telah disusun, serta mampu menyusun proposal rencana bisnis untuk berwirausaha dan mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa dalam Bidang Kewirausahaan. Diklat PMW tahun 2016 dilaksanakan selama 2 (dua) hari yaitu hari Senin dan Selasa tanggal 18-19 Juli 2016 di kampus ISI Denpasar.
by admin | Jul 19, 2016 | Berita
Garapan seni drama musikal garapan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar dengan antusias disaksikan oleh ratusan masyarakat yang berduyun-duyun datang ke Panggung Terbuka Ardha Candra Taman Budaya Bali, Sabtu (16/7) malam. Drama musikal yang berjudul “Tantri Kamandaka” ini dipersembahkan oleh Internet Seminar Indonesia Denpasar yang melibatkan 90 orang mahasiswa yang berasal dari 5 prodi diantaranya prodi musik, sendratasik, tari, karawitan, dan pedalangan. Pagelaran ini melibatkan I Gede Oka Surya Negara, SST., M.Sn dan Tjok. Istri Putra Padmini, SST., M.Sn sebagai penata tari serta I Nyoman Kariasa, S.Sn., M.Sn dan I Gede Mawan, S.Sn., M.Sn sebagai penata karawitan.
Drama musikal yang dibawakan oleh ISI Denpasar ini mengisahkan tentang sebuah negeri bernama Negeri Patali. Sebuah negeri yang dipimpin oleh seorang raja bijaksana yang bemama Eswaryadala. Dalam kepemimpinannya Raja Eswaryadala di damping oleh seorang patih yang bernama Patih Bandeswara. Awalnya keadaan kerajaan baik-baik saja, hingga pada akhirnya raja merasa jatuh cinta terhadap seorang gadis yang bernama Tantri, yang tiada lain adalah putri dari Patih Bandeswara. Kecintaannya terhadap Tantri membuat Sang Raja gelap hati dan larut dalam egonya. Raja memerintahkan Patih untuk menyerahkan satu gadis perawan setiap harinya, jadi tiap satu malam akan diadakan pernikahan kerajaan, hal ini dilakukan Raja demi mendapatkan Tantri. Setelah seluruh gadis perawan habis, Tantri dengan rela menyerahkan dirinya demi menjaga bhakti ayahnya terhadap raja dan Tantri berjanji akan mengembalikan kebijaksanaan Sang Raja seperti dahulu kala.
Pada malam pernikahannya, Tantri memohon ijin kepada Raja untuk bercerita, dalam ceritanya tersebut tantri menyelipkan banyak hal tentang sikap seorang pemimpin. Cerita yang diceritakan Tantri berawal dari Kisah Lembu dan Singa. Dikisahkan ada seekor lembu yang bernama Lembu Nandaka yang menjalin persahabatan dengan seekor singa yang bernama Singa Pinggala. Seekor serigala yang bernama Sambada yang tiada lain adalah tangan kanan dari singa merasa terancam dengan persahabatan singa dan lembu. Karena takut jabatannya sebagai tangan kanan tersingkir oleh lembu, Sambada dengan kelicikannya memerintahkan anak buah serigalanya yang bernama Jambuka untuk mengajak anjing-anjing hutan mengadu domba lembu dan singa. Akhinya lembu dan singa mati karena kelicikan Sambada, karena merasa sudah menjadi Raja hutan, Sambada mengajak seluruh anak buahnya menyantap bangkai lembu dan singa, karena sifat rakus dan tamak akhinya Sambada mati kekenyangan akibat menyantap bakai tersebut.
Sajian seni drama musikal tersebut berlangsung dengan lancar dan juga berhasil membius serta mengundang tawa para penonton yang hadir pada malam itu dengan lakon drama yang diselingi oleh penampilan jenaka dari para pelakon.
Adapun yang berperan sebagai penanggung jawab hingga koordinator dalam pementasan Drama Musikal tersebut diantaranya adalah:
Penanggung Jawab |
: |
Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.SKar., M.Hum |
Penasehat |
: |
1. Prof. Dr. Drs. I Nyoman Artayasa, M.Kes. |
|
|
2. Drs. I Gusti Ngurah Seramasara, M.Hum. |
|
|
3. Drs. I Wayan Gulendra, M.Sn. |
Koordinator Umum |
: |
I Ketut Garwa, S.Sn., M.Sn |
Wakil Koordinator |
: |
I Wayan Suharta, SSKar., M.Si |
Artistik Director |
: |
I Wayan Suweca, SSKar., M.Mus |
Koordinator Tari |
: |
A.A.A. Mayun Artati, SST., M.Sn |
Koordinator Karawitan |
: |
Wardizal, S.Sen., M.Si |
Koordinator Musik |
: |
I Komang Darmayuda, SSn.,M.Si |
Koordinator Sendratasik |
: |
Drs. Rinto Widyarto, M.Si |
Koordinator Lapangan |
: |
1. I Dewa Ketut Wicaksana, SSP., M.Hum |
|
|
2. Ni Ketut Suryatini, SSKar.,M.Sn. |
|
|
3. Dr. Ni Luh Sustiawati, M.P |
|
|
4. Dr. Ni Wayan Ardini, S.Sn., M.Si |
|
|
5. I Ketut Sumerjana, S.Sn.,M.Sn |
|
|
6. I Wayan Mudiasih, SST., M.Si |
Pada malam itu hadir pula Rektor ISI Denpasar (Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.SKar, M.Hum) beserta jajarannya yang turut serta menyaksikan pagelaran seni drama musikal tersebut. Pementasan kali ini merupakan lanjutan dari program Bali Mandara Mahalango III yang sebelumya telah secara resmi dibuka oleh Gubernur Bali Gede Mangku Pastika Minggu (10/7) malam. Bali Mandara Mahalango III yang akan diselenggarakan selama 50 hari ini merupakan lanjutan dari Program tahunan Pesta Kesenian Bali (PKB) sebagai salah satu program unggulan dari Pemerintah Provinsi Bali di bidang kebudayaan.